Tuesday, 24 April 2012

Identifikasi dan Assesment Anak Berkebutuhan Khusus


IDENTIFIKASI DINI DAN ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


A. Hakekat Identifikasi Dini dan Asesmen
Istilah identifikasi dan asesmen sering dipergunakan secara bergantian. Secara harfiah seseungguhnya identifikasi berbeda dengan asesmen .
Identifikasi dini merupakan pada tahapan awal yang masih bersifat global/kasar dari asesmen yang lebih rinci dan hal detail. Tujuan dari identifikasi dini dan asesmen juga berbeda . Hal ini menyangkut kompetensi dan profesionalisme.
Identifikasi dini sering dimaknai sebagai proses penjaringan awal mungkin, sedangkan asesmen dimaknai sebagai penyaringan. Identifikasi dini Anak Berkebutuhan Khusus dimaksudkan sebagai suatu upaya seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk melakukan proses penjaringan terhadap anak yang mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional/ tingkah laku) seawal mungkin dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Hasil dari identifikasi adalah ditemukannya anak-anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan layanan pendidikan khusus melalui program inkulusi. Pengelompokan anak berkebutuhan khusus dapat dibagi menjadi:
1.      Tunanetra/ anak yang mengalami gangguan penglihatan;
2.      Tunanrungu/ anak yang mengalami gangguan pendengaran;
3.      Tunadaksa/ anak yang mengalami kelainan anggota tubuh/ gerakan;
4.      Anak Berbakat/ anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa;
5.      Tunagrahita;
6.      Anak lamban belajar;
7.      Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, atau diskalkulia);
8.      Anak yang mengalami gangguan komunikasi; dan
9.      Tunalaras/ anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku

Sesuai keperluan pembelajaran dan layanan khusus lain yang sesuai dengan kebutuhan anak, dapat dilanjutkan dengan kegiatan asesmen.
Kegiatan asesmen ini lebih ditekankan pada upaya
1.      Asesmen akademik,
2.      Asesmen sensorik dan motorik,
3.      Asesmen pribadi dan sosial, dan
4.      Asesmen lain yang dianggap perlu.
Dengan asesmen akan diketahui kelemahan/ kesulitan anak dalam satu hal, kekuatan/potensi/kemampuan dan kelebihan anak dalam satu hal, serta kebutuhan layanan khusus yang diperlukan utnuk mengatasi satu hal.

B. Tujuan Identifikasi Dini
Secara umum tujuan identifikasi ini adalah untuk menghimpun informasi seawal munggkin apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, sosial, emosional, dan atau sensoris neurologis) atau tidak. Disebut mengalami kelainan/ penyimpangan tentunya harus dibandingkan dengan anak lain yang sebaya dengannya. Hasil dari identifikasi akan dilanjutkan dengan asesmen, yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya.
Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu:
1.      penjaringan (screening),
2.      pengalihtanganan (referal),
3.      klasifikasi,
4.      perencanaan pembelajaran, dan
5.      pemantauan kemajuan belajar.
Adapun Penjelasan dari kegiatan tersebut sebagai berikut:
1. Penjaringan (screening)
Penjaringan dilakukan terhadap semua anak dikelas dengan Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Contoh alat identifikasi terlampir. Pada tahap ini identifikasi berfungsi menandai anak-anak mana yang menunjukan gejala-gejala tertentu, kemudian menyimpulkan anak-anak mana yang mengalami kelainan/penyimpangan tertentu, sehingga tergolong Anak Berkebutuhan Khusus.
Dengan alat identifikasi ini guru, orang tua, maupun tenaga profesional terkait, dapat melakukan kegiatan penjaringan secara baik dan hasilnya dapat digunakan untuk bahan penanganan lebih lanjut.
2. Pengalihtanganan (referal)
Berdasarkan gejala-gejala yang dtemukan pada tahap penjaringan, selanjutnya anak-anak dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, ada anak yang tidak peru dirujuk ke ahli lain (tenaga profesional) dan dapat langsung ditangani sendiri oleh guru dalam bentuk layanan pembelajaran yang sesuai.
Kedua, ada anak yang perlu dirujuk ke ahli lain terlebih dulu (referal) seperti psikolog, dokter, orthopedagog (ahli PLB), dan atau therapis, baru kemudian ditangani oleh guru.
Proses perujukan anak oleh guru ke tenaga professional lain untuk membantu mengatasi masalah anak yang bersangkutan disebut proses pengalihtanganan (referral). Jika tenaga professional tersebut tidak tersedia dapat diminintakan bantuan ke tenaga lain yang ada seperti Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) atau Konselor.
3. Klasifikasi
Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk menentukan apakah anak yang telah dirujukke tenaga professional benar-benar memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan pendidikan khusus.
Apabila berdasar pemeriksaan tenaga professional ditemukan maslaah yan gperlu penanganan lebih anjut (misalnya pengobatan, therapy, latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan kepada orang tuasiswa yang bersangkutan. Jadi guru tidak mengobati dan atau memberi therapy sendiri, melainkan menfasilitasi dan meneruskan kepada orang tua tentang kondisi anak yang bersangkutan. Guru hanya akan membantu siswa dalam hal pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan kondisi anak. Apabila tidak ditemukan tanda-tanda yang cukup kuat bahwa anak yang bersangkutan memerlukan penanganan lebih lanjut, maka anak dapat dikembalikan ke kelas semula untuk mendapatkan pelayanan pendidikan khusus.
Kegiatan klasifikasi ini memilah-milah mana Anak Berkebutuhan Khusus yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan mana yang langsung dapat mengikuti pelayanan pendidikan khusus di kelas reguler.
4. Perencanaan Pembelajaran
Pada tahap ini, kegiatan identifikasi bertujuan untuk keperluan penyusunan program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI). Dasarnya adalah hasil dari klasifikasi. Setiap jenis dan gradiasi (tingakt kelainan) Anak Berkebutuhan Khusus memerlukan program pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Mengenai program pembelajaran yang diindividualisasikan (PPI) akan dibahas secara khusus dalam buku yang lain tentang pembelajaran dalam pendidikan inklusi.
5. Pemantauan Kemajuan Belajar
Kemajuan belajar perlu dipantau untuk mengetahui apakah program pembelajaran khusus yang diberikan berhasil atau tidak. Apabil adalam kurun waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan (berarti), maka perlu ditinjau lagi beberapa aspek yang berkaitan. Misalnya apakah diagnosis yang dibuat tepat atau tidak, Program Pembelajaran Individual (PPI) yang disusun sesuai atau tidak, bimbingan belajar khusus yang diberikan sesuai atau tidak, dan seterusnya.
Sebaliknya, apabila dengan program khusus yang diberikan, anak mengalami kemajuan yang cukup signifikan maka program tersebut perlu diteruskan sambil memperbaiki/ menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada.
Dengan lima tujuan khusus diatas, identifikasi perlu dilakukan secara terus menerus oleh guru, dan jika perlu dapat meminta bantuan dan atau bekerja sama dengan tenaga professional terkait.

C. Sasaran Identifikasi
Secara umum sasaran identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus adalah seluruh anak usia pra- sekolah dan usia sekolah dasar. Sedangkan secara khusus (operasional), sasaran identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus adalah:
1.      Anak yang sudah bersekolah di Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah;
2.      Anak yang akan masuk ke Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah;
3.      Anak yang belum/ tidak bersekolah karena orangtuanya merasa anaknya tergolong Anak Berkebutuhan Khusus sedangkan lokasi SLB jauh dari tempat tinggalnya; sementara itu, semua SD terdekat belum/ tidak mau menerimanya;
4.      Anak yang drop-out Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah karena faktor akademik.
D. Petugas Identifikasi
Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah tergolong Anak Berkebutuhan Khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:
1.      Guru kelas;
2.      Orang tua anak; dan atau
3.      Tenaga proffesional terkait.

E. Pelaksanaan Identifikasi
Ada beberapa langakah dalam rangka pelaksanaan identifikasi anak berkebutuhan khusus. Untuk identifikasi anak usia sekolah yang belum bersekolah atau drop out sekolah, maka sekolah yan gbersangkutan perlu melakukan pendataan ke masyarakat sekitar kerjasama dengan Kepala Desa/ Lurah, RT, RW setempat. Jika pendataan tersebut ditemukan anak berkelainan, maka proses berikutnya dapat dilakukan pembicaraandengan orang tua, komite sekolah maupun perangkat desa setempat untuk mendapatkan tindak lanjutnya.
Untuk anak-anak yang sudah masuk dan menjadi siswa pada sekolah tertentu, identifikasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menghimpun Data tentang Anak
Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data kondisi seluruh siswa dikelas (berdasar gejala yan gnampak pada siswa) dengan menggunakan Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus (AI ALB). Lihat format 3 terlampir.
1.      Menganalisis Data dan Mengklasifikasi Anak
Pada tahap ini tujuannya adlaah untuk menemukan anak-anak yang tergolong Anak Bekebutuhan Khusus (yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yang diindikasikan berkelainan sesuai dengan ciri-ciri dan standar nilai yang ditetapkan. Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukan ke dalam daftar nama-nama anak yang berindikasi kelainan sesuai dengan format khususyang disediakan seperti terlampir (lihat format 4). Sedangkan untuk anak-anak yan gtidak menunjukan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukan ke dalam daftar khusus tersebut.
1.      Mengadakan Pertemuan Konsultasi dengan Kepala Sekolah
Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapat saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.
1.      Menyelenggarakan pertemuan kasus (case conference)
Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasi oleh Kepala Sekolah setelah data Anak Berkebutuhan Khusus terhimpun dari seluruh kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan: (1) Kepala Sekolah; (2) Dewan Guru; (3) orang tua/ wali siswa; (4) tenaga frofessional terkait, jika tersedia dimungkinkan; (5) Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) jika tersedia dan memungkinkan.
Materi pertemuan kasus adalah membicarakan temuan dari masing-masing guru mengenai hasil identifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan cara-cara pemecahan serta penanggulangannya.
5. Menyusun laporan hasil pertemuan kasus
Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil pertemuan kasus. Format laporan hasil pertemuan kasus, dapat menggunakan contoh seperti yang terlampir (lihat format 5)
6. Alat Identifikasi
Secara sederhana ada beberapa aspek informasi yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Contoh alat identifikasi sederhana untuk membantu guru dan orang tua dalam rangka menemukenali anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus, antara lain sebagai berikut:
Form 1 : Informasi riwayat perkembangan anak
Form 2 : Informasi/ data orangtua anak/wali siswa
Form 3 : Informasi profil kelainan anak (AI-ALB)
Dari ketiga informasi tersebut secara singkat akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Informasi Riwayat Perkembangan Anak
Informasi riwayat perkembangan anak adalah informasi mengenai keadaan anak sejak di dalam kandungan hingga tahun-tahun terakhir sebelum masuk sekolah. Informsi ini penting, sebab dengan mengetahui latar belakang perkembangan anak, kita akan menemukan sumber penyebab problema mengajar. Informasi mengenai perkembangan anak sangat penting bagi guru sebagai pertimbangan dalam membuat program pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Informasi perkembangan anak mencakup identitas anak, riwayat masa kelahiran, perkembangan masa balita, perkembangan fisik, perkembangan sosial, dan perkembangan pendidikan.
Riwayat masa kehamilan dan kelahiran mei[uti perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu, usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelhiran, penolong persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, dan tanda-tanda kelainan bayi. Perkembangan masa balita mencakup informasi mengenai lama menyusus ibunya, usia akhir minum susu kaleng,kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya.
Perkembangan fisik diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak, berdiri, berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat lengkap, kesulitan gerakan yang dialami, status gizi balita, dan riwayat kesehatan.
Perkembangan sosial terutama berkaitan dengan hubungan dengan sudara, hubungan dengan teman, hubungan dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan minat khusus. Perkembangan pendidikan meliputi informasi mengenai kapan masuk TK, berapa lama pendidikan di T K, kapan masuk S D, apa kesul;itan selama di T K, apa kesulitan selama di S D, apakah pernah tinggal kelas, pelayanan khusus yang pernah diberikan, prestasi belajar tiap semester, mata pelajaran yang dirasakan paling sulit, dan mata pelajaran yang paling disenangi.

2. Data Orang Tua/ Wali Siswa
Selain data mengenai anak, tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali siswa yang bersangkitan. Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan belajar anak. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua terhadap anak, serta pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.
Data orang tua/wali siswa sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali, hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi orang tua, serta tanggungan dan tanggapan orang tua/keluarga terhadap nak. Identitas orang tua harus lengkap, tidak hanya identitas ayah melainkan juga identitas ibu, misalnya umur, agama, status pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal. Hubungan orang tua-anak menggambarkan sejauh mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak, misalnya apakah kedua orang tua satu rumah atau tidak, demikian juga dengan anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau keluarga lain. Semua kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar anak.
3. Informasi Mengenai Profil Kelainan Anak
Informasi mengenai gangguan/kelinan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa S D dari empat Provinsi di Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33% mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31 % gangguan komunikasi, 7,9% cacat (kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6 % gangguan penglihatan, dan 2 % gangguan pendengaran.
Tanda-tanda kelainan atau gangguan khusus pada siswa (jika ada) perlu diketahui guru. Kadang-kadang adanya kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung, dapat menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini sangat bergantung pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap penerimaan anak terhadap kondisi tersebut.
G. Tindak Lanjut Kegiatan Identifikasi
Sebagai tindak lanjut dan kegiatan identifikasi anak berkelainan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, maka dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Asesmen
Asesmen merupakan kegiatan penyaringan terhadap anak-anak yang telah teridentifikasi sebagai anak berkebutuhan khusus . Kegiatan asesmen dapat dilakukan oleh guru (untuk beberapa hal), dan tenaga profesional lain yang tersedia sesuai dengan kompetensinya. Kegiatan asesmen meliputi beberapa bidang, antara lain:
a. Asesmen Akademik
Asesemen akademik sekurang-kurangnya meliputi tes kemampuan membaca, menulis dan berhitung.
b. Asesmen Sensorik dan Motorik:
Asesmen sensorik terutama untuk mengetahui ganguan penglihatan, pendengaran. Sedangkan asesmen motorik untuk mengetahui gangguan motorik halus maupun kasar yang mungkin dapat mengganggu pembelajaran bidang yang lain.
c. Asesemen Psikologik, Emosi dan Sosial.
Asesmen psikologik dapat digunakan untuk mengetahui potensi intelektual dan kepribadian abak, Juga dapat diperluas dengan tingkat emosi dan sosial anak.
d. Asesemen lain yang dianggap perlu:
Misalnya aspek kesehatan, status gizi dan perkembangan fisik anak. Informasi ini sangat penting karena aspek kesehatan sangat berpengaruh terhadap konerja belajar anak.
Ada bagian-bagian tertentu yang dalam pelaksanaan asesmen mebutuhkan tenaga profesional sesuai dengan kewenangannya. Guru dapat membantu dan memfasilitasi terselenggaranya asesmen tersebut sesuai dengan kemampuan orang tua dan sekolah.
2. Perencanaan Pembelajaran dan Pengorganisasian Siswa
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan dapat meliputi: menetapkan bidang atau aspek problema belajar yang akan ditangani. Apakah seluruh mata pelajaran, sebagian mata pelajaran, atau hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran. Menetapkan pendekatan pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah bentuknya berupa pelajaran remedial, pengayaan, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain-lain, menyususun program individual.

3. Pelaksanaan Pembelajaran
Pada tahap ini guru melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan dalam kelas reguler sesuai dengan rancangan yang telah disusun dan ditetapkan pada tahap sebelumnya. Sudah tentu pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru. Program tersebut bersifat fleksibel.

4. Pemantauan Kemajuan Belajar dan Evaluasi
Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak . Jika anak mengalami kemajuan dalam belajar, pendekatan yang dipilih guru perlu terus dimantapkan , tetapi jika tidak terdapat kemajuan perlu diadakan peninjauan kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian diharapkan akhirnya semua problema belajar anak secara bertahap dapat diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau bahkan putus sekolah.


REFERENSI

Amos, N.W. (1978). The Black Child – Language and Communication. New York: Africana Research Publication.

David Smith,J. And Dean. (2003). Inclusion Schools for All Students. An International Thomson Publishing Company.

Depdiknas. (2002). Paket Penanganan Siswa Berkesulitan Belajar Untuk Guru Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional. Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan. Jakarta.

Direktorat Pendidikan Luar Biasa. (2004). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus, Dirjen Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional.

Foreman, P. (2001). Integration and Inclusion in Action. Tnelson Thomson Learning. Australia.

Mason, and Stephen, M. (1997). Visual Impairment Acces to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

Sunardi. (2003). Sistem Pembelajaran Kelas Inklusi, Workshop Pendidikan Inklusi. Semarang: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.

UNESCO. (2004). Menciptakan Kelas Inklusif, Ramah Terhadap Peserta Didik. Direktorat Pendidikan Luar Biasa dan Braillo. Norway

Universitas Pendidikan Indonesia. (2002). Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Departemen Pendidikan Nasional. Braillo Norway. Universitas Oslo.




Penanganan Anak Dengan Gangguan Perilaku



ANAK DENGAN GANGGUAN PERILAKU DAN PENANGANANYA


                                                      
 
KATA PENGANTAR 
 Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “ Tugas Mencari Klien Anak dengan gangguan Perilaku dan penanganannya “ .
            Keberhasilan dalam penulisan makalah ini berkat bimbingan, arahan dan dorongan yang diberikan oleh berbagai pihak kepada penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1)      Dosen mata kuliah Modifikasi perilaku yang telah membimbing dan memberi dukungan
2)  Teman – teman dari Pendidikan Luar Biasa 2009 yang telah membantu dan memberi dukungan
3)      Semua pihak yang telah bekerja sama dan membantu dalam penulisan makalah yang berjudul “ Tugas Mencari Klien Anak dengan Gangguan Perilaku “ .
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai bahan perbaikan.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun bagi pembaca serta dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

                                                                                    Surakarta,  Januari 2012
                                                                                    Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .....................................................................................................................      1
KATA PENGANTAR ...................................................................................................................      2
DAFTAR ISI .................................................................................................................................      3
BAB I PENDAHULUAN
          Latar Belakang ....................................................................................................................      4
          Rumusan Masalah ...............................................................................................................      4
          Tujuan .................................................................................................................................      4
BAB II PEMBAHASAN
          Pengertian ............................................................................................................................     5
          Data Anak ...........................................................................................................................      5
          Riwayat Anak .....................................................................................................................      6
          Hambatan .............................................................................................................................     7
          Penanganan ..........................................................................................................................     8
BAB III PENUTUP
          Kesimpulan ..........................................................................................................................     11
          Saran ....................................................................................................................................     11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................      12
         








BAB I
A.    LATAR BELAKANG
Peserta didik adalah suatu individu yang membutuhkan banyak bimbingan dan pelayanan untuk perkembangan intelektual,social,sampai perkembangan  perilakunya.
Dalam realitanya masih banyak peserta didik yang belum mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan untuk perkembangan.Ini berpengaruh juga dengan perkembangan perilakunya ,bahkan karena kurangnya bimbingan,peserta didik dapat melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakat.Ironisnya masih banyak masyarakat yang belum peka terhadap penyimpangan yang dilakukan peserta didik itu,dan masih menganggap kenakalan yang dilakukan itu biasa,padahal apabila kenakalan itu tidak ditindak lanjuti dengan tepat,bias saja kenakalan tersebut semakin parah (abnormal).Maka perlu dilakukan asessmen kepada peserta didik yang mungkin mengalami gangguan emosi dan perilaku untuk menjaring peserta didik yang mengalami gangguan tersebut ,agar dapat menentukan dan memberikan penenganan yang tepat.
B.     RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah cara yang tepat untuk menentukan dan memberikan penanganan yang tepat pada klien dengan gangguan perilaku?

C.    TUJUAN
1.Untuk mengasesmen anak dengan Gangguan Perilaku.
2.Mencari alternatif penanganan Anak dengan Gangguan Perilaku.
3.Memadukan teori dengan kenyataan langsung di lapangan.










BAB II

A.    PEMBAHASAN

a.      Pengertian Anak dengan Gangguan Perilaku
Anak dengan gangguan perilaku atau biasa disebut Tuna laras mencakup populasi yang sangat heterogen. Bagi sebagian orang awam, istilah tuna laras umumnya diasosiasikan dengan anak remaja yang sering menimbulkan keresahan dan keonaran, baik di sekolah maupun dalam masyarakat.
            Penyandang tuna laras tidak hanya membuat orang lain marah, sedih, was-was, atau pun pusing karena ulah yang ditimbulkannya. Ulah-ulah itu dikarenakan akibat hambatan yang disandang oleh anak tuna laras, pada umumnya mereka tidak dapat atau mereka mempunyai hambatan menjalin hubungan interpersonal dengan masyarakat atau dengan sosial.


b.      Data Anak
Nama                                                         : Rahmad Tri Wibowo
Jenis Kelamin                                            : Laki-laki
Tempat dan Tanggal Lahir                        : Karanganyar, 25 februari 198
Agama                                                       : Islam
       Gangguan perilaku                                    : 1.Ramai di kelas
                                                                            2.Emosi tidak terkontrol
                                                                            3.Bernyanyi saat pelajaran berlangsung
                                                                            4.Mengobrol saat pelajaran berlangsung
                                                                            5.Suka menentang guru

Data orang tua
Nama Ayah                                               :  Sulasno
( Kandung / Tiri / Angkat )
Agama                                                       :  Islam
Pendidikan                                                :  Sekolah Dasar
Pekerjaan                                                   :  Tani
Alamat                                                       :Bendungan, RT 02 RW 03 Bendungan,   Genukharjo,Wuryantoro       
Nama Ibu                                                  :  Maryati
( Kandung / Tiri / Angkat )
Agama                                                       :  Islam
Pendidikan                                                :  SD 
Pekerjaan                                                   :  Tani


c.       Riwayat Anak
1.      Faktor Biologis
Pada Umumnya Individu tidak mempunyai riwayat biologis yang berbeda dengan anak yang normal, karena pada dasarnya pula tidak ada teori yang menyatakan bahwa faktor biologis anak menjadi penyebab langsung terjadinya gangguan emosi ringan dan sedang.
2.      Faktor Keluarga
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa lingkungan keluarga sangatlah mempunyai andil yang sangat besar terhadap perilaku individu. Pada klien yang saya dapati, individu sangatlah kurang diperhatikan oleh anggota keluarganya dirumah. Latar belakang keluarga yang tergolong masyarakat menengah ke bawah membuat kedua orang tuanya sibuk mencari nafkah sebagai buruh. Pendidikan orangtua yang hanya lulusan Sekolah Dasar menjadikan kurangnya pengetahuan tentang psikologi individu. Sehingga, individu merasa bebas melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa peringatan dari orangtuanya.
3.      Faktor Sekolah
Beberapa anak mengalami gangguan perilaku ketika mereka mulai sekolah. Ketika individu mulai mengalami kesulitan di sekolah dan kurang ketrampilan dalam bidang akademis dan sosial, mungkin dia mendapat respon negatif dari guru dan teman sebayanya. Dalam hal ini ada suatu yang sangat berbahaya, yakni individu akan terjerat dalam suatu lingkaran interaksi negatif dimana dia menjadi terus- menerus dalam keadaan jengkel dan merasa tertekan. Selain itu, penguatan negatif yang berupa hukuman- hukuman sering diberikan oleh salah satu guru mata pelajaran tertentu terhadap individu. Intensitas hukuman-hukuman yang terus-menerus itulah yang membuat individu merasa jengkel terhadap guru tersebut, sehingga sering sekali individu membuat perhitungan terhadap guru tersebut dengan berbagai cara yang usil dan merugikan guru.
4.      Faktor lingkungan
Lingkungan individu yang bisa dibilang sebagai lingkungan yang kurang menerapkan norma-norma bermasyarakat dapat pula menjadi faktor individu mengalami gangguan perilaku. Individu yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang kurang beradab, dapat terpengaruh oleh teman-temanya.

d.      Hambatan Anak
1.      Gangguan tingkah laku
Attention deficit disorders : individu tidak dapat memusatkan perhatian, dan disertai hiperaktif.
Conduct disorders yaitu penyimpangan yang berupa sikap agresif atau perilaku yang menyebabkan kekacauan. Conduct disorders yang dialami individu adalah yang termasuk dapat bersosialisasi namun agresif.
2.      Gangguan emosi
Oppositional disorders : sikap selalu menentang dan melawan. Ditunjukan dengan adanya penolakan jika diberikan tugas oleh guru.
Identity disorders : perilaku menyimpang untuk mencari identitas diri.
3.      Gangguan sosial
Individu mengalami gangguan sosial ketika individu berada di lingkungan sekolah dan luar lingkungan masyarakat. Itu dikarenakan lingkungan masyarakat disekitar rumahnya yang juga termasuk lingkungan yang tidak mempunyai norma-norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya. Jika individu berada di lingkungan sekolahnya, ia merasa paling benar, sehingga ia berbuat seenaknya sendiri terhadap teman- temanya yang mengabkibatkan individu dibenci oleh teman-temanya karena ulahnya yang sangat menjengkelkan dan merugikan orang lain jika orang tersebut tidak sependapat denganya.

e.       Penanganan
            Untuk menangani anak yang berperilaku agresif seperti budi,ada beberapa cara yang bisa dilakukan :
a.)Pendekatan Psikodinamik
Ada 2 cara yang dapat di lakukan guru atau tenaga kerja professional lain,yaitu pertama menerima perilaku  dan perasaan anak ,kedua memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan cathasius (pelampiasan sehingga merasa puas,terharu)

Menerima perasaan perilaku anak bertujuan untuk membentuk hubungan yang dekat antara guru dengan murid.Satu strategi yang  disarankan untuk ini adalah dengan pendekatan pembelajaran yang lebih permitif dibandingkan dengan kelas-kelas tradisional,karena di dalam lingkungan tersebut ,anak merasa diterima dan bebas mengekspresikan pendapat,sehingga anak dapat mengembangkan hubungan yang aman dan meyakinkan dengan guru atau pembimbingnya.Untuk mendorong perasaanya diterima,beberapa hal direkmendasikan ,antara lain larangan-larangan formal dilonggarkan,suasana kelas dibuat nonkompesitif dengan suasana ramah ,ekspresi perasaan dan individualitas diijinkan dan tujuan pendidikan harus dibuat realistic bagi setiap anak.

b.)Pendekatan psikoedukasi
Pendekatan ini menekankan pada masalah kognitif dan efektif anak dan mengatasinya dengan membawa anak, sehingga memperoleh insight(wawasan) tentang masalah yang dihadapinya.
Dengan pendekatan ini anak dilatih dengan seperangkat ketrampilan untuk dapat mengatasi masalah sendiri,dan perangkat ketrampilan ini oleh Fagen dkk.(Kauffman ,1985) terdiri atas 8 hal :
·         Seleksi             : Kemampuan memahami info yang dating secara teliti.
·         Penyimpanan   : Kemampuan mengingat/menyimpan infoyan diterima
·         Pengaturan      : Kemampuan mengorganisasikan tindakan berdasarkan rencana yang sudah diatur
·         Mengantsipasi konsekuensi: Kemampuan menghubungkan tindakan dengan akibat yang diduga
·         mengendalikan frustasi :Kemampuan menghadapi hambatan eksternal yang mengakibatkan stress
·         Pencegahan dan penundaan  : Kemampuan membatalkan atau menunda keinginan bertindak
·         Relaksasi : Kemampuan mengurangi ketegangan internal
Ini berati bahwa tekanan pendekatan psikoedukasi adalah pada upaya preventif dengan pembentukan seperangkat ketrampilan pada anak ,dan perangkat ketrampilan yang disebut self control curriculum .

c.)Pendekatan behavioristik
Asumsi dasar dari pendekatan behavioristiik adalah bahwa perilaku,termasuk agresi,adalah fenomena yang terbentuk(learned).Proses terbentuknya perilaku ini adalah melalui interaksi antara stimulus-respons dengan berbagai kondisinya ,seperti penguat(reinforce),reward (hadiah),punishment(hukuman).Tentang perilaku agresif,pendekatan behavioristik beranggapan bahwa yang diperlukan sebenarnya bukan wawasan pelaku tentang tindakan dan perilakunya,tetapi bagaimana agar pelaku dapat belajar cara berperilaku yang baik.oleh karena itu ,tekanan dari pendekatan ini adalah pada teknik pengaturan lingkungan untuk mendorong dan memberi imbalan atas perilaku adaptif dan tidak agresif (Bandura,1973)

Pengendalian perilaku agresif menurut pendekatan behavioristik meliputi :
·         Pernyataan mengenai tujuan khusus
·         Sistem pengukuran perilaku yang tepat
·         Teknik mengubah perilaku (Carr dalam Kauffman,1985)

Adapun beberapa prosedur intervensi yang dapat dipakai untuk mengurangi perilaku agresif,antara lain,
·         Mencontoh respons yang non agresif dalam situasi yang sebenarnya dapat menjurus ke perilaku agresif.misalnya,dengan menggunakan seseorang sebagai model  (orang dewasa,teman sebaya,film,cerita bintang,dsb)
·         Membimbing pelatihan perilaku non agresif dalam kehidupan nyata dan dalam kegiatan seperti bermain peran ,pengucapan bersama.
·         Menguatkan perilaku nonagresif dengan memberi imbalan bagi perilaku pengganti respons agresif,misalnya bermain tanpa memukul atau bagi perilaku adaptif yang meningkatkan kompetensi social,misalnya prestasi belajar yang baik.
·         Menghentikan agresi dengan menolak memberi imbalan bagi perilaku agresif,misalnya menolak menuruti kemauan anak meskipun anak telah marah-marah.
·         Menghukum perilaku agresif dengan salah satu dari tiga cara : memberi stimulus yang menyakitkan (mis.menampar);Menghentikan imbalan positif (mis.mengurangi nilai yang telah diberikan)atau menahan sesuatu yang disukai anak (mis.makanan,permen,mainan);Memberi time out (mis.menyuruh anak berdiri di depan kelas atau duduk di kantor kepala sekolah pada waktu teman yang lain bermain)
 
BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan
·         Anak dengan gangguan perilaku atau biasa disebut Tuna Laras, pada hakekatnya tidak dapat didefinisikan secara objektif. Namun secara umum, anak yang mengalami gangguan emosi dapat dikenali dari perilaku merek, seperti suka marah, suka menyendiri, dan sebagainya.
·         Hambatan yang ditimbulkan dari gangguan perilaku yakni:
-          Gangguan perilaku
-          Gangguan emosi
-          Gangguan sosial
·         Penanganan yang dapat dilakukan:
-          Pendekatan psikodinamika
-          Pendekatan psikoedukasi
-          Pendekatan behaviouristik

b.      Saran
·         Secara umum, perilaku menyimpang disebabkan oleh faktor ekstern individu, misalnya faktor keluarga, lingkungan, dan sekolah. Peran yang terpenting adalah keluarga. Karena di dalam keluargalah individu mulai mmengenal dunianya. Jadi, diharapkan perhhatian dan kasih sayang harus diberikan kepada inndividu.
·         Sebaiknya orangtua dapat memilah lingkungan yang sekiranya baik untuk individu bersosialisasi, sehingga berdampak postif untuk perilaku individu.
·         Guru hendaknya tidak selalu memberikan hukuman-hukuman atas apa yang individu lakukan dalam aspek negatif saja, namun guru juga perlu memberikan penguatan positif berupa apresiasi-apresiasi ketika individu mengerjakan apa yang diperintah oleh guru dengan baik.